logo Ide-Granat~Petuah Si Udin
Join Facebook FanPage
Follow me

Google+ :
Muhammad Zha'farudin
Twitter :
@muhammad_zpw
Selamat Datang !

Note of

Muhammad Zha'farudin


Live with Technology.

Tujuan Hidup : #Berilmu dan #Beramal

Banyak yang memperdebatkan masalah tujuan hidup manusia. Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka harus hidup di dunia.

Menurut keyakinan yang saya yakini, saya menyimpulkan ada 2 tujuan hidup yaitu Berilmu dan Beramal. Untuk apa? Tentu saja kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.

Dengan kedua hal tersebut, Insya Allah kebahagiaan itu akan tercapai.

#Berilmu
semua ummat muslim harusnya menyadari pentingnya berilmu. Kita diciptakan sebagai makhluk sempurna yang dilengkapi otak, tidak lain adalah untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dengan berilmu kita juga tidak akan mungkin dibodohi. Itu merupakan sebuah kenikmatan. Ilmu membuat kita tahu siapa sebenarnya diri kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita harus menyembah dan berlindung. Al Quran yang menjadi pedoman, sumber, dan dasar sebuah ilmu. Dengan ilmu yang kita dapat, kita bisa beramal sesuai kaidah dan etik yang ada sehingga apa yang kita lakukan tidak sia-sia.

#Beramal
Beramal ini mencakup semua pekerjaan kita, ketakwaan, semua implementasi dari ilmu yang kita dapat. Setinggi apapun ilmu kita, bila dalam praktek (beramal) masih tidak sesuai, ilmunya perlu dipertanyakan. Beramal juga menyangkut segala usaha kita dalam menggapai apa yang kita inginkan.

Jadi, pertanyaan telah terjawab.
* Untuk Apa Kita Hidup di Dunia ini ?

Hidup untuk Berilmu dan Beramal

:)

DISCOVER MORE ►

Malam Setelah Buka Bersama #terakhir 2

Menghormati dan menjadi sahabat seperti ini adalah sebuah kebahagiaan yang sangat indah. Sahabat bukanlah hubungan yang maksiat. Ketika harus dihadapkan dalam pertengkaran, mungkin sebentar lagi juga akan kembali bersenang. Lagi pula saya ingin ikut mereka jalan-jalan tidak lain adalah untuk merasakan indahnya persahabatan. Ketika mereka mengunggah foto mereka di kejaring sosial, jujur saya sangat iri. Saya juga ingin merasakan indahnya persahabatan seperti itu. Tapi kadang pikiran teman-teman yang beranggapan bahwa saya mengharapkan dan menjadikan modus untuk hanya sekedar mendekati Dan, itulah yang membuat saya terdiam janggal. Sangat tidak enak. Kadang saya berpikir, kenapa rasa semacam ini terjadi dalam persahabatan ini.

Tanpa pamitan dengan yang lain. Akhirnya saya secara spontan memutuskan untuk pulang ke rumah mumpung masih belum terlalu malam. Daripada saya ikut, lalu lagi-lagi saat teman-teman bercanda dan saling tertawa tiba-tiba saya terlihat terdiam janggal. Itu sungguh menyakitkan, tidak nyaman. Seperti bergerak sedikit saja dianggap sesuatu yang salah. Saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana saat keadaan itu terjadi.

DISCOVER MORE ►

Malam Setelah Buka Bersama #terakhir

Kemarin teman-teman ipa 5 mengadakan acara buka bersama di salah satu tempat wisata kuliner di Kota Batu. Mungkin ini akan menjadi acara buka bersama yang terakhir sebelum kami berpisah menuntut pendidikan atau mungkin pekerjaan kami masing-masing. Saat ini sudah ada dua orang di antara kami yang telah resmi meninggalkan kami untuk melaksanakan pendidikannya sebagai calon prajurit, Firman dan Gede. Walau sudah tidak bersama saat ini, kami sangat bangga memiliki sahabat seperti mereka. Ini seharusnya benar-benar menjadi acara yang tidak hanya untuk kebahagiaan sekelompok teman saja.

Ada seseorang yang seharusnya menjadi sangat spesial dalam buka bersama kemarin, Puguh. Ia juga anggota gozila yang merasakan kebersamaan kami hanya dalam 1 semester lebih. Lalu setelahnya ia menghilang. Kami tak tahu kabarnya hingga kurang lebih satu setengah tahun. Ia memutuskan untuk memutus sekolahnya karena masalah broken home yang terjadi dalam keluarganya. Sangat disayangkan bahwa ia sampai meninggalkan pendidikannya ini. Sesekali saya melihat matanya berkunang-kunang seolah-olah ingin mengatakan pada kami bahwa ia sangat rindu suasana seperti ini.

Saya hanya menyayangkan bahwa dalam acara kemarin teman-teman kurang mengekspose kehadiran Puguh ini. Bahkan sesekali ia bergumam di samping saya seperti dia tidak dianggap di sini. Padahal saya berharap bahwa kehadiran Puguh yang semula dirahasiakan ini akan menjadi kenangan termanis khususnya untuk sahabat lama kami yang satu ini.

H-1 Pengumuman SBMPTN
Iya, mengenai waktu pelaksanaannya saya kira teman-teman telah menentukan hari itu karena hari itu adalah H-1 pengumuman SBMPTN. Saya sebelumnya juga berharap pada acara tersebut terdapat acara setidaknya doa bersama agar teman-teman yang mengikuti SBMPTN bisa lolos serta syukur yang mendalam atas keberhasilan teman-teman yang sudah masuk di PTN, PTK, atau tempat pendidikan lain. Mengingat mayoritas teman-teman mengikuti SBMPTN setelah gagal di SNMPTN. Bahkan sebagian mereka menganggap rendah seleksi mandiri mengingat dibeberapa PTN, yang masuk dalam jalur ini nantinya biaya pendidikannya sangat tinggi. Ini salah besar. Di UGM tempat saya diterima menyamakan dengan sistem ukt yang disesuaikan dengan penghasilan orang tua. Tidak memandang itu dari jalur snmptn, sbmptn ataukah mandiri. Kecuali program Internasional melalui seleksi IUP yang memang membutuhkan biaya lebih untuk masuk situ.

Kembali lagi. Berbagai ekspektasi yang aneh-aneh saya bayangkan sebelum acara kemarin sore dilaksanakan. Tapi cukup memuaskan. Bertemu teman itu serasa menyenangkan, apalagi jika membicarakan tentang impian dan masa depan. Mengingat juga ini adalah bulan Ramadan, bila kita memiliki keinginan dan kita mau berdoa, Insya Allah akan dikabulkan.

Subhanallah. Saya ucapkan ketika Dan datang bersama beberapa teman yang lain. Dan sekarang berhijab. Ia menepati janjinya setelah SMA ia akan menutupi aurat itu. Beberapa minggu ini saya jarang menghubunginya. Itu saya lakukan agar pikiran saya tidak kemana-mana saat Ramadan ini. Saya hanya mengamati dari foto profil yang dipasang dalam line, whatsapp, atau fbnya. Ia memasang yang telah berkerudung. Alhamdulillah.

Sebelumnya saya mengidolakan seorang artis cantik yang ada di filmnya Raditya Dika `Manusia Setengah Salmon`. Ya, Eriska Reinisa. Awalnya saya kira dia non-muslim. Setelah saya cari di google dan menemukan profilnya di wikipedia, ternyata anggaran saya salah. Ia seorang muslim. Masya Allah. Saya langsung mencari-cari fotonya. Eh, saya menemukan fotonya yang berhijab berwarna merah muda dan kelihatan sangat cantik. Ah, saya jadikan foto profil di WA saya. Yang mengagetkan adalah ketika Dan datang. Ia mengenakan hijab berwarna sama. Itulah hal yang membuat saya terbata-bata tak sanggup melihatnya. Walaupun itu adalah sebuah kebetulan. Saya hanya merasakan bahwa itu anugerah di bulan Ramadan. Masya Allah.

Nah, sambil ngabuburit menunggu adzan maghrib, teman-teman bercanda, ber-selfie ria, dan ada pula yang masih galau memikirkan pendidikan lanjutnya. Acara berlangsung dengan ceria, seperti biasa. Kami berbahagia bersama ditambah lagi dengan kebahagiaan saat berbuka. Masya Allah sungguh kenikmatan yang sangat besar yang diberikan oleh-Nya.

Kira-kira pukul 7 selesai buka bersama. Ada yang langsung pulang dan ada pula yang masih ingin berjalan-jalan bersama. Mengingat masih jam segitu sebenarnya saya masih ingin bersama-sama dengan mereka. Awalnya saya ingin gabung dengan mereka yang masih ingin berjalan-jalan. Namun, pikir saya hilang sekaligus mengingat Dan juga ikut teman-teman jalan-jalan dulu. Lalu ada teman saya samar-samar nyeletuk bahwa agar Dan saya bonceng. Tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Tapi dalam benak, saya berpikiran bahwa teman-teman berpikiran saya mengharapkan hal itu. Bahwa saya berharap lebih dekat dengan Dan, atau mungkin saya ingin mendekati Dan. Jelas Tidak Benar! Saya menghormati Dan. Seperti apapun rasa suka saya padanya, menghormati dan menjadi sahabat seperti ini ad

DISCOVER MORE ►

I Have A Freedom to Choose

Di tengah hiruk pikuk suasana politik negeri ini yang sedang mencari seorang pemimpin, saya merasakan keresahan lain. Itu tentang pendidikan lanjut saya. Saya rasa kegalauan ini sangat mendekati kegalauan saat akan memilih antara kedua capres di pemilihan presiden 2014.

Ya, jadi bulan-bulan ini adalah bulan dimana seluruh pelosok negeri seangkatan saya saling bersaing untuk mendapatkan kursi di tempat pendidikan tinggi impian. Diawali dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Jalur ini adalah jalur seleksi nasional yang diadakan oleh seluruh PTN di Indonesia tanpa melalui tes tulis. Penyeleksiannya menggunakan prestasi akademik dengan memperhitungkan nilai-nilai rapot, prestasi non-akademik, serta rekam jejak sekolah.

Sebelumnya saya juga sempat bingung menentukan pilihan. Setelah membaca banyak referensi dan menyesuaikan dengan keinginan orang tua yang tidak ingin saya sekolah terlalu jauh, maka saya memutuskan menempatkan pilihan pertama saya di ITS. Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa prodi yang saya pilih tidak lain adalah Teknik Informatika. Saya sudah tidak bisa move on lagi dari urusan teknologi digital.

Pendaftaran online sudah saya lakukan bersamaan dengan teman-teman yang telah menentukan pilihannya masing-masing. Singkat cerita saya tidak lolos seleksi tersebut. Saya merasa kekecewan yang sangat dalam. Eh, tidak. Biasa saja kok, tapi sakitnya tuh di sini *nunjuk hati*. Pertama saya merasa sedikit kecewa karena tidak terbukanya proses penilaiannya. Banyak sekali teman saya yang secara prestasi juga baik, malah bisa dikatakan terbaik, justru tidak lolos. Mereka yang *maaf* secara akademik kurang dari mereka yang baik, lolos. I mean this is just a mystery.

UGM ada di tangan!
Lupakan masalah SNMPTN!
Sebelumnya sambil menunggu pengumuman SNMPTN yang baru diumumkan satu bulan setelah pendaftaran online ditutup, saya mencoba menggunakan waktu itu untuk mencari informasi seleksi-seleksi PTN yang lain. Ya, saat itu saya mendapatkan informasi dari twitter tentang jalur masuk UGM. Ok, saya baca sepertinya menarik. Ada semacam jalur prestasi untuk masuk UGM. Namanya PBU (Penelusuran Bibit Unggul). Nah, kebetulan saya sering ikut lomba di kelas 1 dan 2. Alhamdulillah dimana ada usaha dan niat pasti hasilnya tak akan mengecewakan. Diantara sertifikat yang saya punya termasuk kategori seni. So, saya daftar dari jalur prestasi olahraga dan seni, PBOS (penelusuran bakat olahraga dan seni).

Waktu itu, jadwal tes tulis jalur PBU bebarengan dengan acara wisuda, beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN yang gagal. Padahal waktu itu saya mendapatkan kesempatan untuk pidato bahasa indonesia mewakili wisudawan. Saya sempat menyesal. Tapi apa yang saya sesalkan tidak jelas. Sudahlah. Akhirnya dengan niat kuat, saya berangkat ke Jogja, melangkahkan kaki untuk mendapatkan yang terbaik. Karena saya sadar, wisuda SMA yang hanya satu kali seumur hidup itu sudah saya korbankan. Maka jalan bijak satu-satunya adalah dengan menggantinya harus dengan wisuda di kampus UGM empat tahun yang akan datang. Itu artinya, lolos seleksi ini adalah suatu keharusan saya. Melalui tes tulis dan tes keterampilan dengan serangkaian acara yang sungguh melelahkan, sambil mengelilingi Jogja, alhamdulilllah pengorbanan saya tidak sia-sia Saya dinyatakan lolos seleksi PBOS. Sekali lagi, janji saya tidak sekadar lolos seleksi masuk saja, jauh dari itu, saya harus lulus empat tahun yg akan datang dengan segala yang telah dan bisa saya buat.

Di Sini Titik Kegalauan Saya
Sudah biasa, senang luar biasa saat melihat pengumuman bahwa dinyatakan lolos dari sekian banyak siswa berprestasi lainnya. Air mata sudah tak terbendung saat kenikmatan itu datang. Saya hanya melihat sajadah di depan mata saya. Saya langsung mengabari ibuk dan bapak setelah itu.

Ibuk senang. Iya biasa. Saat itu beliau mengatakan kepada saya untuk ikut SBMPTN juga dan ambil di Malang. Perasaan saya mulai tidak enak. Dulu waktu saya ingin ikut seleksi PBOS UGM, ibuk mengijinkan. Saat tahu saya diterima sepertinya ibuk ingin putranya kuliah di Malang saja.

Dan pada waktu itu saya juga sudah tak terpikirkan untuk tes SBMPTN. Saya bingung belajar ngebut dengan sisa waktu itu juga rasanya berat sekali. Saya sudah malas apalagi soal SBMPTN yg dibuat dengan tingkat kesulitan tinggi. Akhirnya saya kemudian berangkat ke Gramedia terdekat di Malang. Saya cari buku SBMPTN, langsung beli. Hingg, tebal amat bukunya. Akhirnya sampai tes SBMPTN itu, saya hanya mempelajari soal tpa dan tkdu. Hingga saat ini saya hanya tinggal menunggu hasil pengumuman.

Lalu bagaimana Jika..
Saya Lolos juga?
Satu hal yang pasti adalah Saya Harus Memilih Salah Satu. Sudah.

DISCOVER MORE ►

Pendidikan Harus Dipisahkan dengan Politik

Pendidikan Indonesia itu harus dibina sejak dini. Jika tidak, maka tujuan nasional dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa itu akan sulit dicapai. Kita telah mengetahui bahwa potensi siswa-siswi di Indonesia sangat tinggi. Apalagi tunas bangsa kita sepertinya tak pernah absen untuk menyabet medali emas dalam kompetisi atau olimpiade sains tingkat dunia. Akan sangat rugi bila negara ini tidak memberi ruang kepada cendekiawan muda untuk berkarya demi kemajuan bangsa. Oleh karena itu peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mengolah potensi SDM ini.

Sejak reformasi para insan pendidikan mulai berbondong-bondong untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tidak heran, karena pendidikan adalah sektor yang sangat penting dalam pembangunan. Perlu perbaikan untuk menghasilkan bangsa yang cerdas di masa yang akan datang. Namun, disini masalahnya adalah cara memperbaikinya. Dalam dekade terakhir ini ada setidaknya 4 kali pergantian kurikulum. Menurut saya cara ini kurang tepat untuk diterapkan di Indonesia dengan wilayah yang sangat luas ini.

Keberlanjutan sistem pendidikan itu hal yang sangat fundamental. Dengan sistem yang berlanjut dan stabil, tujuan pendidikan akan tercapai tepat sasaran. Untuk menyiapkan segala materi maupun bahan ajar dari sebuah kurikulum tentu membutuhkan waktu yang tak cukup dalam 5 tahun terlaksana penuh. Apalagi dengan wilayah Indonesia yang sangat luas dan mencakup wilayah kota hingga pelosok, pasti pendistribusian kurikulum yang diharapkan dari pusat akan sangat lama dan perlu adaptasi.

Ingat, setelah pengenalan sebuah kurikulum baru ke seluruh penjuru tanah air tahap selanjutnya adalah adaptasi dengan kurikulum. Tahap inilah yang sebenarnya membutuhkan waktu yang lama. Karena dalam tahap ini tidak hanya siswa yang harus menyesuaikan, tetapi guru juga harus banyak belajar kembali untuk menyesuaikan kurikulum tersebut. Saya beri contoh seperti yang ada di dalam kurikulum 2013 yang baru ini. Guru dituntut untuk menggunakan media digital untuk menyesuaikan zaman. Jika ini diimplementasikan pada sekolah yang sudah dikatakan maju, mungkin guru dan murid bisa dengan cepat beradaptasi. Namun, Indonesia, sekali lagi saya katakan, sangat luas. Memiliki insan pendidik yang tidak hanya pada umur tertentu saja. Bahkan kebanyakan guru di Indonesia ini dalam hidupnya masih belum mengenal teknologi digital sama sekali. Lalu bagaimana menyelesaikan masalah ini? Apalagi bila kita membahas tentang daerah-daerah pelosok yang mungkin listrik saja belum menikmati. Apakah waktu 5 atau 10 tahun itu cukup? Saya katakan itu mustahil.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi di Indonesia saat ini? Mari kita telaah bersama-sama.

Dalam perkembangannya jika kita agak jeli melihatnya kita akan mendapat sebuah pola dimana saat kekuasaan politik berganti, maka sistem pendidikannya pun juga ikut berganti. Apa yang dapat disimpulkan dari kenyataan tersebut? Benar, pendidikan masih sangat dikaitkan dengan politik. Apa buktinya? Menteri pendidikan masih diangkat oleh presiden bersama dengan menteri-menteri lainnya. Lalu apa masalahnya? Ingat, setiap menteri yang baru belum tentu memiliki kebijakan yang sama dengan menteri yang lama.

Saya tidak akan menganggap salah hal ini jika menteri pendidikan memiliki pedoman dari menteri yang lama untuk melanjutkan pekerjaan yang mungkin belum selesai dalam masa jabatannya itu. Bayangkan jika setiap 5 tahun sekali kita mengadakan pemilu. Lalu setiap 5 tahun pula menteri pendidikan diganti. Kemudian menteri pendidikan tidak memiliki garis haluan untuk melanjutkan sistem yang justru memilih cara untuk merubah kurikulum setiap 5 tahun pula Tidak kah sangat pusing para pendidik dibawah yang hidupnya dipenuhi dengan penyesuaian, penyesuaian, dan penyesuaian. Lalu kapan jadinya jati diri mereka? Kapan mereka bisa dengan optimal mendidik siswa-siswinya?

Seperti yang saya katakan di awal tadi bahwa adaptasi adalah tahap yang paling lama untuk benar-benar menerapkan sebuah kurikulum baru.

Insya Allah dalam posting selanjutnya saya ingin memberi beberapa alternatif solusi untuk masalah ini.

Satu hal yang perlu diingat bahwa,
"untuk melakukan Perbaikan tidak harus dengan perubahan."

DISCOVER MORE ►

Amazing People

Trending Posts

Another Post :
click to close - klik untuk menutup
logo Ide-Granat~Petuah Si Udin
Ide Granat, A Smart Brain Society
Mari bergabung bersama Ide-Granat di Facebook. A Smart Brain Society.

atau
Follow me on Google+ Muhammad Zha'farudin
Follow me on Twitter @muhammad_zpw
ようこそ!!!
がんばって!!!
logo Ide-Granat~Petuah Si Udin

Top